Langsung ke konten utama

REVIEW BUKU NEW PUBLIC MANAGEMENT Milik Jane Erick Lane

 

REVIEW BUKU NEW PUBLIC MANAGEMENT

 


 

 

Data Buku:

  • Judul Buku: New Public Management
  • Penulis: Jane Erick Lane
  • Penerbit: Routledge
  • Tahun Terbit: 2002
  • Jumlah Halaman: 242 halaman

Review Isi Buku:

Buku ini merupakan  buah  karya  Jan-Erik  Lane.  Dia  adalah  seorang profesor ilmu politik di Jenewa Swiss. Selain sebagai seorang professor  penuh di tiga universitas,  Jan-Erik Lane juga mengajarkan politik  dan ekonomi pada banyak universitas di seluruh dunia. Dia telah menjadi anggota dewan redaksi dari banyak jurnal  ilmiah dalam ilmu  politik dan  sosial,  dan telah menerbitkan sekitar 400 buku dan artikel.  Buku  ini  adalah  buku  yang  mengkaji  tentang  sektor  publik  dan manajemennya.  Nuansa  Ini  terlihat  pada  pembagian  manajemen  yang  dibagi menjadi dua sektor yang berbeda, yakni sektor swasta dan sektor publik. Meskipun ada  yang  disebut  "Quangos"/  Quasi  Non-Governmental  Organisation  atau organisasi otonom non-pemerintah, atau juga disebut organisasi sektor ketiga, yakni pemisahan antara publik dan swasta yang dilembagakan di sebagian besar negara di dunia. Sektor publik terdiri dari perilaku organisasi yang tergabung dua alternatif didalamnya yang disebut sebagai "negara" atau "pemerintah", akan tetapi konsep "sektor  publik"  adalah  konsep  yang  lebih  luas  dari  dua  konsep  terkenal  ini.

Buku ini terdiri dari 3 (tiga) bagian dan 11 (sebelas) bab  yang berbicara tentang  teori tata  kelola  sektor  publik  yang  dimulai  dengan  paradigma  Public Administration (PA), kemudian bergeser ke Public Policy Framework atau Kerangka Kebijakan  Publik,  dan kemudian  bergeser  lagi  pada  Management  Approach atau pendekatan manajemen. Pembahasan  secara  sistematis  dan  tuntas  tentang  bagaimana  ketiga kerangka kerja yang berbeda ini bekerja dapat  ditemui dalam Bagian I, dimana penulis  (Lane)  mengambil  posisi  bahwa  banyak  kontribusi  positif  dari  tiga kerangka kerja tersebut yang memang dapat terintegrasi secara bersamaan dengan NPM yang menjadi teori umum dalam tata kelola sektor publik. Sedangkan  pada bagian  ke  II  membahas  tentang latar  belakang  teoritis NPM. Latar belakang teoritis NPM ditemukan dalam kritik yang kuat dari sektor publik yang besar, yang dapat ditemukan di sekolah pilihan publik serta di  Sekolah Ekonomi Chicago, dimana keduanya sejak pertengahan 1960-an telah menyerang tentang gagasan tata kelola sektor publik yang tengah berlaku. Sifat dasar/ umum NPM  mungkin saja  telah  membantu jalannya  politik  hak  asasi  baru atau  neo-konservatisme pada tahun 1980 dan kebangkitan neo-liberalisme dalam ekonomi dunia global pada 1990-an dengan baik. Namun, tanpa senjata berat dari pemenang Hadiah Nobel, para ekonom dan para pakar pilihan publik (public Choice), maka pemerintah akan kurang yakin bahwa mereka berada pada jalur yang "benar" dari sudut  pandang  teoritis  dalam  pencarian  mereka  terhadap  model  pemerintahan alternatif. Pada  Bagian terakhir  (bagian  III),  buku ini  menganalisis  ide-ide  utama dalam NPM untuk menyatakan kegunaan dan keterbatasan mereka. NPM adalah teori pertama dan terutama dalam pandangan kontrak (contractualism), tetapi tidak dapat  menggantikan  pendekatan utama  lainnya  pada  tata  kelola sektor  publik. Dengan demikian, teori tata kelola sektor publik mencakup lebih dari sekedar NPM saja, karena beberapa unsur kebijakan publik dan administrasi publik tidak dapat diganti oleh contractualism.

Jan  Erik  Lane  dalam  bukunya  ini  menetapkan  proposisi  dalam mengartikulasikan New Public Management (NPM) sebagai bentuk tunggal, teori koheren dalam  manajemen sektor  publik, dan  juga untuk  menegaskan kembali relevansi yang terus-menerus (berkesinambungan) dari sektor publik. Diskusi Lane tentang NPM telah membuat referensi khusus bagi pemerintah Australia dan  New Zealand, dua  dari pelaku  sektor publik  yang paling  banyak petualangannya.  Bagi  khalayak  Swiss,  hal  ini  mungkin  dikarenakan  Lane bermaksud untuk menunjukkan NPM secara intelektual dan terhormat, dan mengadopsi prinsip atau hal tersebut tidak berarti bahwa manajemen sektor publik akan segera tergeser pada manajemen komersial (swasta). Dalam sebuah diskusi berbeda yang dimaksudkan untuk berkontribusi pada argumen politik dan kebijakan di Swiss, Lane juga berusaha untuk menantang apa yang ia lihat sebagai sebuah kesalahpahaman sejauh mana yang terjadi dalam pengelolaan dan manajemen negara di banyak negara.

New  Public  Management  memiliki  dua  kelemahan  serius  dalam  hal menetapkan apa yang harus dilakukan. Secara umum, gagal untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk mendukung klaimnya bahwa NPM, seperti yang diterapkan di negara-negara  OECD,  telah  terbukti  unggul  daripada  pendekatan  analisis manajemen publik lainnya. Asumsi Lane tampaknya menjadi pembuktian bahwa konsistensi internal  dari teori ini  adalah alasan  yang  cukup untuk menganggap bahwa hal  itu harus bekerja  dengan baik. Setelah  dua dekade NPM,  justifikasi apriori saja tentunya tidak cukup.  Selanjutnya, beberapa  pernyataan berani  yang dibuat,  yang  tidak  secara meyakinkan benar; yaitu, bahwa NPM adalah sebuah teori yang koheren. Sebuah pandangan umum bahwa NPM bukanlah sebuah teori tunggal tetapi “payung” yang mencakup  berbagai  cara  berpikir  (paradigma)  baru  tentang  bagaimana mendapatkan  hal-hal  yang  umum  dilakukan,  penggambaran  dari  sebuah perniagaan,  manajemen,  ekonomi  kelembagaan  baru,  akuntansi,  dan  filosofi demokrasi modern. Treatment/ perbaikan yang dilakukan Lane pada akhirnya tidak mendukung klaim dari teori yang koheren tunggal-nya berdasarkan kontrak. Dia mengacu pada seperangkat ide yang beragam dari ekonomi dan memang hal itu lebih  jelas  bagaimana  pembahasannya  tentang  negara  kesejahteraan  yang menghubungkan dengan diskusi dia tentang kontrak. Akhirnya, dapat  dikatakan bahwa  tidak ada  perbedaan yang jelas  antara negara kesejahteraan dan masyarakat kesejahteraan, apalagi yang didasarkan pada pengeluaran sektor publik sebagai persentase dari PDB. Kompleksitas hubungan antara pemerintah  dan lembaga-lembaga lain  dalam  masyarakat  dan perbedaan antara  negara-negara  dalam  hal  ini  tidak  banyak  diterangkan  oleh  perbedaan (negara kesejahteraan dan  masyarakat kesejahteraan) ini.  Kekurangan lain  yang juga banyak  terjadi, diungkapkan  oleh fakta  bahwa  terdapat  kesalahan  statistik (penelusuran selanjutnya dapat di lihat pada buku-melaui daftar tabel/ figures list) yang menyebabkan  Lane mendefinisikan  sifat masyarakat  Swiss yang  sejahtera berhubungan dengan apa yang dianggapnya sebagai masalah yang paling mendasar dalam menajemen sektor publik. Namun sebelum mengakhiri pembahasan menarik tentang NPM,  selanjutnya dapat kita kritisi paradigma ini dengan beberapa catatan dibawah ini 

Selayaknya  sebuah  proposisi  atau  ajuan  dan  usulan  sebagai  teori  baru, mengakibatkan NPM tidak pernah  sepi  akan kritik  dalam bentuk  bantahan  atau bahkan sanggahan. New Public Management merupakan suatu paradigma alternatif yang menggeser model administrasi publik tradisional. Terdapat pro dan kontra terhadap manajerialisme yang terjadi pada organisasi sektor publik. Bagi yang pro mereka,  memandang  NPM  menawarkan  suatu  cara  baru  dalam  mengelola organisasi sektor publik dengan membawa fungsi-fungsi manajemen sektor swasta ke dalam sektor publik. Sementara itu, bagi yang kontra mereka mengkritik bahwa pengadopsian  prinsip-prinsip manajemen  sektor swasta  ke dalam  sektor  publik tersebut merupakan adopsi yang kurang tepat dan tidak kritis, karena tidak semua praktik manajemen sektor swasta itu baik.  Jika sektor publik mengadopsi praktik manajemen sektor swasta, maka hal itu juga berarti mengadopsi keburukan di sektor swasta ke dalam sektor publik. Selain itu, pengadopsian tersebut juga mengabaikan perbedaan yang fundamental antara  organisasi sektor  publik  dengan  sektor  swasta.  Manajerialisme  menurut mereka yang kontra bertentangan dengan prinsip demokrasi. Kritik dari pendukung administrasi publik menyatakan bahwa  hal-hal baik yang terdapat  dalam model lama,  seperti: standar  etika  yang tinggi  dan  pelayanan  kepada negara  menjadi dikesampingkan  apabila  sektor  publik  mengadopsi  prinsip  manajerialisme.

Manajerialisme juga dicurigai sebagai bentuk kapitalisme  yang masuk ke sektor publik. Namun meskipun berbagai kritikan muncul, model baru manajemen sektor publik tersebut terus berkembang baik secara teori maupun praktik. Konsep NPM dengan cepat mampu menggeser pendekatan administrasi publik tradisional. Mengapa  manajerialisme  mengalami  perkembangan  yang  pesat  dalam organisasi  sektor publik?  Kebutuhan terhadap  manajerialisme dalam  organisasi sektor publik adalah karena adanya tuntutan masyarakat yang semakin besar agar sektor publik bisa menghasilkan produk (barang/jasa) yang memiliki kualitas yang lebih baik atau minimal sama dengan yang dihasilkan sektor swasta. Jika sektor publik masih tetap berpaku pada pendekatan administrasi, maka sektor publik akan gagal menjawab tantangan tersebut. Oleh karena itu, organisasi sektor publik perlu mengadopsi prinsip-prinsip manajerialisme.

New Public Management  tidak selalu dipahami  sama oleh semua orang. Bagi  sebagian  orang,  NPM  adalah  suatu  sistem  manajemen  desentral  dengan perangkat-perangkat manajemen baru seperti controlling, benchmarking dan lean management; bagi pihak lain, NPM dipahami sebagai privatisasi sejauh mungkin atas aktivitas pemerintah. Sebagian besar penulis membedakan antara pendekatan manajemen  sebagai  perangkat  baru  pengendalian  pemerintah  dan  pendekatan persaingan sebagai deregulasi secara maksimal serta penciptaan persaingan pada penyediaan layanan pemerintah kepada rakyat. Tujuan New Public Management adalah untuk merubah administrasi publik sedemikian rupa sehingga, kalaupun belum bisa menjadi perusahaan, ia bisa lebih bersifat seperti perusahaan. Administrasi publik sebagai penyedia jasa bagi warga harus sadar akan tugasnya untuk menghasilkan layanan yang efisien dan efektif. Tapi, di lain pihak ia tidak boleh berorientasi pada laba. Padahal ini wajib bagi sebuah  perusahaan  kalau  ia  ingin  tetap  bertahan  dalam  pasar  yang  penuh persaingan.

Tujuan di atas bukanlah satu tujuan yang tak dapat dicapai, seperti yang ditunjukkan  oleh pengalaman  dari berbagai  negara (Swedia,  Belanda, Selandia Baru, AS, Britania Raya, dan lain sebagainya) yang beberapa tahun lalu merasa harus melakukan reformasi terhadap kinerja administrasi publik di negara mereka. Reformasi ini  juga menjadi  semakin penting  di negara-negara  lain dan juga  di Amerika Latin. Alasan mengapa dunia politik dan administrasi tertarik pada NPM sangat  beranekaragam  dan  cenderung  tak  jelas:  adminsitrasi  mengharapkan memperoleh  otonomi  yang  lebih  besar dan  debirokratisasi,  pihak politisi  yang mengurus  masalah  keuangan  (parlemen)  ingin  secepat  mungkin  mereformasi anggaran, sementara pemerintah  dan juga  parlemen mengharapkan memperoleh kemungkinan pengendalian yang lebih besar dan baru. Banyak politisi khawatir, dengan anggaran umum (Globalbudget) pihak pemerintah dan administrasi hendak melepaskan diri dari kewajiban justifikasi dan ingin melucuti wewenang parlemen dalam membuat keputusan  dengan cara mengajukan  anggaran  yang tak berarti. Pihak pelaksana order kecewa jika dilakukan  pemangkasan  anggaran atas dasar perbandingan produksi  dan biaya  (benchmarking).  Indikator  produksi dianggap “tak  memadai”  atau  keseluruhannya  dilihat  sebagai  “dampak  negatif  ekonomi” yang  tak  pada tempatnya  atau  sebagai  penghinaan  terhadap administrasi  yang profesional.

Konsep  New  Public  Management  pada  dasarnya  mengandung  tujuh komponen utama, yaitu:

1. Manajemen profesional di sektor publik

2. Adanya standar kinerja dan ukuran kinerja

3. Penekanan yang lebih besar terhadap pengendalian output dan outcome

4. Pemecahan unit-unit kerja di sektor publik

5. Menciptakan persaingan di sektor publik

6. Pengadopsian gaya manajemen di sektor bisnis ke dalam sektor publik

7. Penekanan  pada  disiplin  dan  penghematan  yang  lebih  besar  dalam menggunakan sumber daya

Penekanan pertama, yaitu keahlian manajemen professional, mensugestikan top-manager (presiden, menteri, dirjen) harus mengendalikan organisasi-organisasi publik secara aktif dengan cara yang lebih bebas dan fleksibel. Top-top manager ini tidak  lagi  berlindung  atas  nama  jabatan,  tetapi  lebih  melihat  organisasi  yang dipimpinnya sebagai harus bergerak secara leluasa bergantung pada perkembangan sektor publik itu sendiri. Sebab itu, para top manager harus punya skill manajerial professional  dan  diberi  keleluasaan  dalam  memanage  organisasinya  sendiri, termasuk merekrut dan memberi kompensasi pada para bawahannya. Lalu, penekanan pada aspek orientasi output menghendaki para staf bekerja sesuai target yang ditetapkan. Ini berbalik dengan OPA/ OPM yang berorientasi pada proses yang bercorak rule-governed. Alokasi sumber daya dan reward atas karyawan diukur lewat performa kerja mereka. Juga, terjadi evaluasi atas program serta kebijakan dalam NPM ini.

Sebelum berlakunya NPM, output kebijakan memang telah menjadi titik perhatian  dari  pemerintah.  Namun,  perhatian  atas  output  ini  tidaklah  sebesar perhatian atas unsur input dan proses. Ini akibat sulitnya pengukuran keberhasilan suatu output yang juga ditandai lemahnya control demokratis atas output ini. NPM justru menitikberatkan aspek output dan sebab itu menghendaki pernyataan yang jernih akan tujuan, target, dan indikator-indikator keberhasilan (Basri, 2009). Dari berbagai doktrin NPM di atas, konsep Reinventing Government yang ditawarkan  oleh Osborne  dan Gaebler dirasa  paling mendekati  tentang apa  dan bagaimana  NPM  itu.  Osborne  dan  Gaebler  (1992) menawarkan  10  prinsip pemerintahan yang berjiwa wirausaha, yaitu : 

1.       Pemerintahan  katalis;  Pemerintahan  katalis  adalah Pemerintahan  yang mengarahkan  bukan mengayuh.  Disini  pemerintah  hanya  menjalankan fungsi strategis  saja tidak  ikut campur dalam  pelaksanaan atau kegiatan tekniknya. Peran pemerintah hanya sebagai perencana, pencetus visi, dan penyedia berbagai kebijakan strategis lainnya. Selain itu, berbagai metode dapat  digunakan  untuk  mencapai  organisasi  publik  mencapai  tujuan, memilih metode yang paling sesuai untuk mencapai efisiensi, efektivitas, persamaan,  pertanggungjawaban, fleksibilitas  seperti, privatisasi,  lisensi, konsesi, kerjasama operasional, kontrak, voucher, insentif pajak, dll.

2.       Pemerintahan  milik  masyarakat;  Menekankan  adanya  kontrol  dari masyarakat sebagai akibat dari pemberdayaan yang diberikan pemerintah. Sehingga  masyarakat  lebih  mampu  dan  kreatif  dalam  menyelesaikan masalahnya,  tanpa  bergantung  pada  pemerintah.  Akhirnya  masyarakat melayani diri mereka sendiri bukan lagi pemerintah yang melakukannya, namun pemerintah  tetap memastikan  masyarakat memperoleh  pelayanan dasar mereka. Dengan adanya control dari masyarakat, pegawai negeri akan memiliki komitmen yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih kreatif dalam memecahkan masalah.

3.       Pemerintahan  Kompetetif; pemerintahan  yang  memasukkan  semangat kompetisi dalam pemberian layanan kepada masyarakat. Masyarakat disini sebagai konsumen yang secara pribadi berhak memilih layanan mana yang lebih baik, sehingga akhirnya pemerintah saling berkompetisi untuk dapat menjadi yang terbaik.

4.       Pemerintahan  yang  digerakkan  oleh  misi;  pemerintahan  yang  mampu merubah orientasi dari pemerintahan yang digerakkan oleh aturan menjadi pemerintahan yang digerakkan oleh misi. Artinya adalah pemerintah tidak harus  berjalan sesuai  aturan,  karena  dengan  aturan  pemerintah  menjadi lamban  dan  lebih  mengutamakan  prosedur  yang  sesuai  dengan  aturan. Dengan  digerakkan  oleh  misi  maka  misi  utamalah  yang  dikedepankan dalam menjalankan pemerintahan. 

5.       Pemerintahan yang berorientasi hasil; pemerintahan yang membiayai hasil bukan input. Pemerintah dalam hal ini akan bekerja sebaik mungkin karena penghargaan  yang  diterima  berdasarkan  hasil  yang  dikeluarkan  oleh masing-masing  instansi.  Sehingga  dengan  hal  ini  kinerja  pemerintah menjadi lebih baik untuk mendapat penghargaan yang baik pula.

6.       Pemerintahan yang berorientasi pelanggan;  pemerintahan yang memenuhi kebutuhan pelanggan bukan birokrasi. Pemerintah memenuhi apa yang di inginkan  masyarakat  bukan  menjalankan  pelayanan  berdasar  aturan birokrasi. Sehingga pemerintah dalam hal ini perlu melakukan survei untuk melihat perkembangan kebutuhan masyarakat, yang akhirnya pemerintahan menjadi efektif dan efisisen.

7.       Pemerintahan wirausaha;  Pemerintahan  yang menghasilkan  profit bukan menghabiskan. Berupaya  untuk  meningkatkan  sumber-sumber  ekonomi yang dimiliki oleh instansi pemerintah dari  yang tidak produktif menjadi produktif, dari yang produksinya rendah menjadi berproduksi tinggi, yaitu dengan  mengadopsi  prinsip-prinsip  kerja  swasta  yang  relevan  dalam administrasi publik. 

8.       Pemerintahan  antisipatif;  Pemerintahan  yang  berorientasi  pencegahan  menggunakan  perencanaan  strategis,  pemberian  visi  masa  depan,  dan berbagai metode lain untuk melihat masa depan.

9.       Pemerintahan desentralisasi; merubah  pemerintahan yang digerakkan oleh hierarki menjadi pemerintahan partisipatif dan kerjasama tim. Pemerintah desentralisasi  adalah  suatu  pemerintah  yang  melimpahkan  sebagian wewenang pusat  kepada daerah melalui organisasi atau sistem yang ada. Sehingga Pegawai di tingkat daerah dapat langsung memberikan pelayanan dan mampu membuat keputusan secara mandiri, sehingga tercipta efisiensi dan efektifitas.

10.    Pemerintahan  yang  berorientasi  pasar;  pemerintahan  yang  mendorong perubahan  melalui pasar.  Pemerintah  yang  berorientasi  pasar  acap kali memanfaatkan struktur pasar swasta untuk memecahkan masalah dari pada menggunakan mekanisme administratif, seperti menyampaikan pelayanan atau  pemerintah  dan  kontrol  dengan  menggunakan  peraturan.  Dengan menciptakan  insentif keuangan-insentif  pajak,  dan sebagainya,  sehingga dengan cara ini organisasi swasta atau anggota masyarakat berperilaku yang mengarah pada pemecahan masalah sosial.

Hasil nyata  dari proses  penerapan  NPM tersebut  mencakup lima aspek, yaitu : (1) saving, (2) perbaikan proses, (3) perbaikan efisiensi, (4)  peningkatan efektivitas, dan (5) perbaikan  sistem administrasi seperti  peningkatan kapasitas, fleksibilitas dan ketahanan. Reformasi sektor publik pada dasarnya tidak hanya terjadi di negara-negara maju  saja.  Akan  tetapi  beberapa  negara  berkembang  juga  secara  aktif  terus melakukan  reformasi  lembaga  publiknya.  Reformasi  sektor  publik  di  negara berkembang banyak dipengaruhi oleh peran World Bank, UNDP, IMF, dan OECD. Reformasi sektor publik di negara-negara yang sedang berkembang banyak yang mengarah pada penerapan  New  Public Management. Perubahan  yang dilakukan oleh negara-negara berkembang tersebut bercermin kepada perubahan manajerial yang  dilakukan  oleh  negara-negara  maju  terutama  Inggris, Amerika  Serikat, Kanada, dan New Zealand. 

Beberapa pihak  berpendapat  bahwa  New  Public  Management tidak tepatditerapkan  untuk  negara  berkembang.  Pengadopsian  model  New  Public Management yang dilakukan negara-negara berkembang apakah memang benar-benar  menjadikan  lebih  baik  ataukan  hanya  sekedar  perubahan  luarnya  saja. Apakah  manajerialisme  yang  dilakukan  di  negara-negara  maju  bisa diimplementasikan  di  negara  berkembang.  Hal  tersebut  menjadi  pertanyaan mendasar,  karena  gaya  manajemen  yang  ada  di  negara  negara-negara  Barat mungkin sekali  akan berbeda hasilnya  jika diterapkan di  tempat yang berbeda. Sangat  mungkin terjadi  bahwa  penerapan  NPM dipengaruhi  oleh  faktor-faktor kultural.  Tingkat  keberhasilan  negara  berkembang  dalam  mengadopsi  prinsip manajerialism  model  barat  memang  bervariasi.  Sebagai  contoh,  Malaysia menerapkan Total Quality Management (TQM) sebagai bentuk dari modernisasi manajemen  publik  dan  penerapannya  dinilai  sukses,  namun  Bangladesh  dan beberapa negara Afrika banyak mengalami kegagalan. Implementasi New Public Management  di  negara-negara  berkembang  tidak  mudah  dilakukan  karena kecenderungan birokrasi masih sangat sulit dihilangkan.

Argumen bahwa New Public Management tidak tepat untuk negara-negara berkembang karena alasan korupsi dan rendahnya kapasitas administrasi tidaklah  tepat. Penerapan NPM pada negara-negara berkembang tergantung pada faktor-faktor kontinjensi lokal (localised contingency) bukan karena karakteristik nasional secara umum. Faktor-faktor seperti korupsi dan lemahnya kemampuan administrasi memang mempengaruhi  kinerja  pemerintah, akan tetapi  localized contingencies lebih  besar  pengaruhnya  sebagai  penentu  keberhasilan  atau  kegagalan  upaya reformasi. Terdapat  beberapa  masalah  dalam  menerapkan  konsep  New  Public Management di negara berkembang.

Pertama, New Public Management didasarkan pada penerapan prinsip/mekanisme pasar atas kebijakan publik dan manejemennya. Hal ini juga terkait dengan pengurangan peran pemerintah yang digantikan dengan pengembangan pasar,  yaitu dari  pendekatan pemerintah sentris  (state centered) menjadi pasar  sentries  (market centered approach).  Negara-negara berkembang memiliki  pengalaman  yang  sedikit  dalam  ekonomi  pasar.  Pasar  di  negara berkembang  relatif  tidak  kuat  dan  tidak  efektif.  Perekonomian  pasarnya lebih banyak didominasi oleh asing atau perusahaan asing, bukan pengusaha pribumi atau lokal. Di samping itu, pasar di negara berkembang tidak efektif karena tidak ada kepastian hukum yang kuat. Sebagai contoh, masalah kepatuhan terhadap kontrak kerja sama (contract right) sering menjadi masalah.

Kedua,  terdapat  permasalahan  dalam  privatisasi  perusahaan-perusahaan publik. Privatisasi  di negara berkembang  bukan merupakan  tugas yang  mudah. Karena pasar di negara berkembang belum kuat, maka privatisasi akhirnya akan berarti  kepemilikan  asing  atau  kelompok  etnis  tertentu  yang  hal  ini  dapat membahayakan, misalnya menciptakan keretakan sosial. 

Ketiga, Perubahan dari mekanisme birokrasi ke mekanisme pasar apabila tidak  dilakukan secara  hati-hati bisa  menciptakan wabah  korupsi.  Hal ini  juga terkait  dengan  permasalahan budaya korupsi  yang kebanyakan  dialami negara-negara  berkembang. Pergeseran  dari budaya  birokrasi  yang bersifat  patronistik menjadi budaya pasar yang penuh persaingan membutuhkan upaya yang kuat untuk mengurangi kekuasaan birokrasi.

Keempat,  terdapat  masalah  untuk  berpindah  menuju  pada  model pengontrakan  dalam  pemberian  pelayanan  publik  jika  aturan  hukum  dan penegakannya tidak kuat. Model pengontrakan akan berjalan baik jika outcome-nya mudah ditentukan. Jika tujuan organisasi tidak jelas,  atau terjadi wabah korupsi yang sudah membudaya maka penggunaan model-model kontrak kurang berhasil.

Terdapat  permasalahan  politisasi  yang  lebih  besar  di  negara  berkembang dibandingkan di negara maju, termasuk dalam hal politisasi penyediaan pelayanan publik, pemberian kontrak kepada kroni-kroninya. Kelima,  kesulitan  penerapan  New  Public  Management  di  negara berkembang  juga terkait  dengan  adanya permasalahan  kelembagaan,  lemahnya penegakan  hukum,  permodalan,  dan  kapabilitas  sumber  daya  manusia.  terjadi karena Selain itu, negara berkembang terus melakukan reformasi yang tidak terkait atau bahkan  berlawanan  dengan agenda  NPM. Paket dalam agenda  NPM tidak dilaksanakan sepenuhnya. Namun New Public Management (NPM) tetaplah sebuah paradigma yang menarik  karena  menerapkan  berbagai  teori  yang  berbasis  ekonomi  dalam manajemen publik. Diskusi teoritis Jan-Erik Lane terkait masalah dan solusi dalam kontrak sektor publik dapat digunakan secara proporsional bagi mereka merancang mekanisme pelayanan publik. Bagaimapun juga, klaim Lane yang lebih besar yang mengajukan NPM sebagai teori terpadu untuk berpikir tentang sektor publik tidak berkesinambungan atau dapat dikatakan masih lemah karena banyak bermunculan penantang dan pembantah teori ini sehingga memunculkan teori yang baru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW BUKU THE NEW PUBLIC GOVERNANCE EMERGING PERSPECTIVE OF THE THEORY AND PRACTICE ON PUBLIC GOVERNANCE Milik Stephan P. Osborne

  REVIEW BUKU THE NEW PUBLIC GOVERNANCE EMERGING PERSPECTIVE OF THE THEORY AND PRACTICE ON PUBLIC GOVERNANCE       Data Buku : ·          Judul Buku : The New Public Governance emerging perspective on the theory and practice of public governance ·          Penulis   : Stephan P. Osborne ·          Penerbit : Routledge. New York ·          Tahun Terbit : 2010 ·          Jumlah Halaman : 431 Halaman Review isi Buku: Buku New Public Governance karya Stephen P. Osborne menjelaskan tentang perdebatan antara Administrasi Publik, NPM, dan NPG. Sejak munculnya karya Christopher Hood yang mengkodifikasi sifat paradigma NPM, paradigma ini dianggap menghilangkan paradigma sebelumnya dalam penyusunan kembali kemenangan sifat disiplin komunitas penelitian Ang...

REVIEW BUKU REFORMASI BIROKRASI DAN GOOD GOVERNANCE Milik Abd. Rohman, S.Sos., M.A.P.

REVIEW BUKU REFORMASI BIROKRASI DAN GOOD GOVERNANCE   Milik Abd. Rohman, S.Sos., M.A.P.             Data Buku: ·          Judul Buku: Reformasi Birokrasi Dan Good Governance ·          Penulis: Abd. Rohman, S.Sos., M.A.P. ·          Penerbit: Intrans Publishing ·          Tahun Terbit: 2019 ·          Jumlah Halaman: 148 halaman   Buku ini berisi tentang teori ataupun konsep yang dibutuhkan untuk memperbaiki kualitas kinerja pelayanan yang dilakukan oleh aparatur negara, melakukan penilaian terhadap kinerja aparatur sipil negara yang mengakomodir prinsip yang melekat yakni Reformasi Birokrasi dan Good Governance serta prinsip-prinsip good govermance akan semakin nyata dan menjadi t...

REVIEW BUKU ADMINISTRASI DAN PELAYANAN PUBLIK Penulis Kamarudding Sellang, S.Sos., M.A.P

  REVIEW BUKU ADMINISTRASI DAN PELAYANAN PUBLIK Penulis Kamarudding Sellang, S.Sos., M.A.P         Data Buku: Judul Buku : ADMINISTRASI DAN PE LAYANAN  PUBLIK  “ Antara Teori dan Aplikasinya ” . Pengarang : Kamarudding Sellang, S.Sos., M.A.P Penerbit : Penerbit Ombak Yogyakarta ISBN 602-258-408-7 (Anggota IKAPI), 2016 Cetakan : 2016 Tebal Buku : xi, 229 Halaman, 16 X 24 cm Review Isi Buku : Dalam Buku ini pada bagian awal buku, penulis ingin menyampaikan bahwa betapa pentingnya memahami Administrasi. Suatu kenyataan yang tidak dapat disanggah bahwa dunia modern dalam melenium ketiga ini ditandai dengan berbagai kemajuan, terutama kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Seiring dengan kemajuan masyarakat dan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS), juga administrasi sebagai bagian dari Ipteks mengal ami kemajuan. Kemajuan administrasi hanya dapat bermakna ...